| Beranda | Saran | Buku Tamu | Kontak Kami | PU-Net |
pengunjung.jpg
mod_vvisit_counterHari ini10
mod_vvisit_counterKemarin457
mod_vvisit_counterMinggu ini970
mod_vvisit_counterBulan ini11000
mod_vvisit_counterTotal3749250
Sejak Juli 2006
Halaman Utama Berita Bendungan Air Nipis Bengkulu

Bendungan Air Nipis Bengkulu

Bendungan Air Nipis Bengkulu, Andalan Irigasi Yang Mulai Terpinggirkan

Bendungan Air Nipis

 Berdasarkan riwayatnya Bendungan Air Nipis dibangun pada tahun 1986 dan memiliki fungsi utamanya sebagai irigator bagi sawah-sawah disekitarnya yaitu mengairi ±3116 Ha area pesawahan dengan debit air ±2,7 liter/detik/hektar. Bendungan ini dibuat untuk mendukung program swasembada beras pada era Orde Baru. Tujuan tersebut tercapai sehingga daerah Bengkulu Selatan menjadi lumbung padi utama di Bengkulu.

Pada perkembangannya bendungan dan irigasi ini, banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Dengan ribuan hektar yang dapat diairi, maka wilayah yang subur ini dapat menghasilkan padi dengan dua kali masa tanam setahunnya. Dalam lima tahun terakhir dengan adanya program minapolitan ini, maka air dari Sungai Air Nipis pun dimanfaatkan dengan menggunakan dan merakayasa bendungan serta sepanjang saluran irigasi.  

Permasalahan muncul ketika ada peralihan fungsi air untuk pengairan persawahan diganti dengan fungsi lain yaitu perikanan darat dan peralihan fungsi sawah. Permasalahan tersebut dapat diurai sebagai berikut:

1.       Minapolitan

Selain Bendungan air Nipis,  proyek yang kami lihat di lapangan juga mengenai bendungan suplesi. Pembangunan bendungan suplesi untuk menambah debit sungai Air Nipis sangat diperlukan, mengingat berkembangnya Kecamatan Seginim-Air Nipis menjadi kawasan Minapolitan, menyebabkan kebutuhan debit air Sungai Air Nipis mau tidak mau harus ditambah. Antara tujuan kawasan minapolitan dengan  Kecamatan Seginim-Air Nipis sebagai lumbung padi BS terkesan kontradiktif.  

“Kemajuan kolam air deras akan bertolak belakang dengan kepentingan petani sawah. Maka akkan terjadi perebutan penggunaan air, karena itu perlunya debit air Sungai Air Nipis ditambah dengan membangun bendungan suplesi. Bila debit air bertambah maka kebutuhan petani kolam air deras dan petani sawah akan tercukupi,” ujar Rohidin sebagaimana dikutip dalam berita di Harian Rakyat Bengkulu. Permasalahann yang sama juga kami  tanyakan kepada teman-teman di SNVT PJPA Sumatera VII Provinsi Bengkulu. Yang pada prinsipnya permasalahan rebutan air ini sudah marak,  terutama ketika musim kemarau. Bendungan Air Nipis pada awalnya memang ditujukan untuk mengairi persawahan. Dengan kesuburan tanah dan melimpahnya air di Bengkulu Selatan ini, maka dari Pemerintah Pusat sudah melaksanakan pembangunan Bendungan sekaligus jaringan irigasi.

Kolam air deras yang marak di sepanjang jalur irigasi sangat mengganggu pasokan air untuk irigasi di persawahan. Bahkan reporter Yustisia menemukan beberapa titik saluran irigasi dirusak oleh warga, pengusaha perikanan kolam air deras, yang merekayasa aliran sehingga membuat pintu air masuk dan keluar tidak sesuai dengan keteknikan, malah merusak dinding2 saluran irigasi. 
 

 Memang pemanfaatan air untuk usaha bididaya perikanan air tawar ini sangat menjanjikan dan menyumbang kemajuan daerah sekitar. Kabupaten Bengkulu Selatan sebagai pengembangan wilayah minapolitan ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Peirkanan. Melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor: 35/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan dan di Kabupaten Bengkulu Selatan ditetapkan 3 (tiga) kawasan atau kecamatan sebagai kawasan minapolitan Kecamatan Seginim, Kecamatan Air Nipis dan Kecamatan Kedurang. Konsepsi Minapolitan, sebagaimana disebutkan dalam Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia Nomor: 18/MEN/2011 adalah konsepsi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan, dengan tujuan meningkatkan produksi, produktivitas dan kualitas produk kelautan dan perikanan menuju pertumbuhan ekonomi di daerah. Untuk mendukung hal tersebut telah dibangun Balai Benih Ikan di wilayah yang dilalui oleh saluran irigasi primer dari Bendungan Air Nipis ini. 

Berdasarkan  Undang-Undang Sumber daya Air, maka perlu diatur mengenai pemanfaatan air untuk budidaya perikanan air tawar ini. Penggunaan air untuk tujuan komersial, dengan mengurangi debitnya sehingga yang tujuan semula untuk mengairi persawahan seluas 3000-an hektar jadi terganggu dan tidak tercapai. Sebagaimana disebutkan di awal, adanya konflik pengguna air, petani dengan pembudidaya ikan air tawar, perlu dicarikan solusinya.

 

 

2.       Peralihan Fungsi Lahan Pertanian

 

Lahan pertanian yang pada tahun 1980-an diperkirakan seluas 3000-an hektar, semakin berkurang, dengan adanya beberapa hal, yaitu:

a. Penetapan minapolitan maka petani beralih ke budidaya air tawar, sebagaimana diuraikan tersebut di atas;

b. Lahan untuk permukiman;

Berkembangnya Bengkulu Selatan karena faktor alamnya yang subur dan daerah datar yang relatif bagus untuk tempat hunian, membuat persawahan banyak yang beralih fungsi menjadi permukiman. Sebenarnya hal tersebut dapat dikendalikan dengan adanya penegakan hukum mengenai tata bangunan, yaitu penerbitan Ijin Mendirikan Bangunan yang ditetapkan oleh daerah. Selain itu harusnya diingat juga mengenai peraturan perundang-undangan yang melarang peralihan fungsi lahan pertanian ini.

c.   Lahan untuk perkebunan kelapa sawit.

Perkebunan sawit dari pemodal besar, terutama dari negara Malaysia telah masuk ke daerah-daerah subur yang mempunyai sumber daya air yang melimpah. Kebutuhan pohon kelapa sawit akan air dan unsur hara, sangat cocok dengan kondisi alam Bengkulu Selatan. Hanya saja, peralihan sawah menjadi perkebunan kelapa sawit perlu dipertimbangkan baik akibat jangka pendek, menengah, maupun panjang. Secara jangka pendek, seharusnya padi bisa dipanen setahun dua kali, dengan ditanami sawit maka akan mengakibatkan defisit penghasilan padi. Dalam jangka menengah ada beberapa permasalahan, termasuk sosial yaitu penanaman modal, hutang piutang, peralihan jenis pekerjaan dan efek gaya hidup lannya. Jangka panjang yang tidak bagus adalah hilangnya sumber daya air dan unsur hara yang sangat penting untuk kesuburan tanaman dan keberlangsungan segi-segi kehidupan. Permasalahan peralihan lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit ini harusnya segera mendapat perhatian yang serius, terkait dengan pasokan air untuk irigasi di sepanjang Bendungan Air Nipis dan saluran irigasinya.

Dapat dikatakan, bahwa permasalahan-permasalahan tersebut di atas, berakar pada kepentingan antara program-program di instansi pemerintah daerah maupun pusat yang belum sinkron dan padu serta saling mendukung.  Perlu adanya keputusan bersama dalam koordinasi program antar instansi, sehingga masing-masing instansi dapat melaksanakan tugas dan fungsinya serta mencapai tujuan bersama yang lebih bermanfaat, yaitu kesejahteraan untuk rakyat di Bengkulu Selatan.

 

  (Pujiono & Cecep  11 Des 2014)

 

 
Aplikasi
Right-Icon-Login.jpg